Artikel Ku

WELCOME TO MY PERSONAL BLOG

Profil Ku

haayoooo....!!!

Masih Kosong

ADA YANG BISA DIBANTU ??

Facebook Ku

SILAHKAN KOREKSI JIKA BLOG SAYA KURANG SEMPURNA ATAU MENGALAMI ERROR

Selasa, 08 Maret 2011


Linkin Park adalah grup musik beraliran nu metal yang berasal dari Aguora Hills, California, di Amerika Serikat. Mereka sempat beberapa kali berganti nama, antara lain Xero, Hybrid Theory, hingga nama Linkin Park sampai sekarang. Nama “Linkin Park” sendiri merupakan plesetan dari nama sebuah taman di Los Angeles, Lincoln Park.
Sebelum Chester Bennington menjadi vokalis Linkin Park, Mark Wakefield lebih dulu menjadi vokalisnya. Namun, ia keluar dari Linkin Park – saat itu menggunakan nama Hybrid Theory – untuk menjadi manajer grup musik Taproot. Bassis Dave Farrell alias “Phoenix” juga pernah keluar sebentar dari Linkin Park untuk mengikuti tur bersama band lamanya, Tasty Snax. Sedangkan 4 personil lainnya – Brad Delson, Mike Shinoda, Joe Hahn, dan Rob Bourdon – selalu bertahan di Linkin Park sejak awal pembentukannya.
Linkin Park telah merilis 3 album studio, yaitu Hybrid Theory, Meteora, dan Minutes to Midnight. Linkin Park juga merilis album Live in Texas, Reanimation, dan Collision Course, serta Hybrid Theory EP. Linkin Park sukses dalam mempopulerkan lagu-lagunya seperti Crawling, In the End, Numb, Somewhere I Belong, dan What I’ve Done. Secara total, album-album Linkin Park telah terjual sebanyak 50 juta keping.
Awal mula
Awal pembentukan Linkin Park yaitu pertemuan Mike Shinoda dan Brad Delson (gitaris Linkin Park) di kelas 7. Lalu mereka membentuk band bernama Xero. Brad juga bermain untuk band Relative Degree, salah satu personilnya yaitu Rob Bourdon (drummer Linkin Park). Mike berkenalan dengan Rob melalui Brad dan Rob

bergabung dengan Xero. Saat kuliah, Brad berkenalan dengan Dave “Phoenix” Farrell (bassis Linkin Park) yang

merupakan teman sekamar Brad. Mike, yang mengambil jurusan ilustrasi di Universitas Seni Pasadena, bertemu dengan Joe Hahn (turntablis Linkin Park). Kemudian, Dave Farrell dan Joe Hahn bergabung bersama Xero. Dave sempat meninggalkan Xero untuk bergabung kembali ke band lamanya, Tasty Snax.
Mulanya, mereka merekrut Mark Wakefield sebagai vokalis, lalu diambil alih oleh Chester Bennington (mantan vokalis Grey Daze) sampai sekarang, sedangkan Mike lalu jadi rapper. Sialnya, karena nama Xero sudah dipakai grup lain, mereka terpaksa mengganti nama menjadi Hybrid Theory. Lalu, Hybrid Theory menandatangani kontrak dengan perusahaan rekaman bernama Warner Bros. Records setelah sukses meluncurkan EP yang bertajuk Hybrid Theory EP pada tahun 1999 sebanyak seribu keping
Sekali lagi, mereka terpaksa mengganti nama karena nama Hybrid Theory mirip dengan nama grup musik Hybrid yang berasal dari Wales. Daripada dianggap band yang sama, mereka memilih berubah nama lagi menjadi Linkin Park. Nama itu diambil Chester dari nama sebuah taman di Los Angeles, Lincoln Park. Agar bisa mengelola situs web sendiri, Chester mengubah ejaannya menjadi Linkin Park. Setelah itu, mereka berhasil membeli situs web linkinpark.com
Hybrid Theory.
Linkin Park meluncurkan album pertamanya, Hybrid Theory, pada tanggal 24 Oktober 2000 dengan singel pertama One Step Closer. Namun, yang lebih terkenal adalah singel Crawling dan In the End. Lagu ini telah membuat Linkin Park menjadi populer. Penjualan album itu melebihi 15 juta keping. Linkin Park lalu merilis edisi spesial dari Hybrid Theory, dengan 2 lagu baru High Voltage dan My December (lagu).
Linkin Park lalu merilis album aransemen ulang dari Hybrid Theory, Reanimation. Album ini pun meraih kesuksesan dengan penjualan kira-kira 10 juta kopi. Singelnya, Pts.Of.Athrty,tidak sepopuler singel di Hybrid Theory, namun cukup terkenal. Linkin Park, melalui Mike Shinoda dan Joseph Hahn, juga sempat bekerja sama dengan band The X-ecutioners dalam pembuatan singel It’s Goin’ Down. Linkin Park juga membentuk kelompok fans mereka bernama Linkin Park Underground, serta mulai mengadakan tur sendiri bernama Projekt Revolution, setelah sering diundang ke festival musik.
Meteora
Tanggal 25 Maret 2003, Linkin Park merilis album kedua bertitel Meteora. Nama tersebut diambil dari nama tempat ibadah di atas puing-puing di Yunani. Album ini juga meraih kesuksesan dengan penjualan kira-kira 11 juta kopi. Singelnya adalah Somewhere I Belong, Faint, Numb, From the Inside, Lying from You, dan Breaking the Habit.
Meteora memenangkan banyak penghargaan. Antara lain Penghargaan MTV kategori “Video Rock Terbaik” untuk lagu “Somewhere I Belong” dan “Penghargaan Pilihan Pemirsa” (Breaking The Habit). Linkin Park juga memenangkan penghargaan lain yaitu “Penghargaan Musik Radio 2004″, “Penghargaan Artis Tahun Ini” dan “Penghargaan Lagu Tahun Ini” melalui lagu “Numb”. Mesikpun album Meteora tidak sesukses Hybrid Theory album ini masuk 3 besar penjualan album di Amerika Serikat tahun 2003.
Linkin Park juga mengadakan Projekt Revolution Tour ke-2 serta sibuk ikut konser. Di sela-sela waktu itu, Linkin Park berhasil menyelesaikan rekaman album konser mereka, “Live In Texas”, yang berisi lagu-lagu saat konser Linkin Park di Texas.

Proyek sampingan
Atas permintaan MTV, Linkin Park berkolaborasi dengan Jay Z dalam album “Collision Course”. Materi album ini adalah remix dari sebagian lagu-lagu Linkin Park dalam album “Hybrid Theory” dan “Meteora” serta lagu-lagu Jay Z dalam album “Blueprint” serta “The Black Album”. Album tersebut dirilis tahun 2004 dan menghasilkan 2 singel, yaitu Numb/Encore yang mendapat penghargaan Grammy kategori “Lagu Rap Terbaik” dan “Kolaborasi Terbaik”.
Pada tahun 2005, Linkin Park lebih mengutamakan konser amal. Mereka membantu korban tsunami pada bulan Desember 2004 dalam konser bertajuk Music For Relief. Linkin Park juga membantu mengumpulkan uang untuk korban Badai Katrina tahun 2004. Sementara itu, Mike Shinoda bergabung dengan Fort Minor dalam album “The Rising Tied”. Chester Bennington juga punya proyek solo yang dinamai Snow White Tan yang selanjutnya populer dengan nama Dead By Sunrise. Lalu, Linkin Park pergi ke Jepang tahun 2006 untuk mengikuti festival musik populer di Jepang, yaitu Summer Sonic.

Minutes to Midnight
Pada tahun 2006, mereka mulai merekam materi untuk album terbaru Linkin Park, yaitu “Minutes To Midnight”. Banyak yang mengkritik Linkin Park karena sering tertunda peluncurannya. Walaupun begitu, Linkin Park menjamin bahwa album tanggal 14 Mei 2007 ini pantas untuk dikoleksi. Menurut Linkin Park, mereka menamai album barunya “Minutes To Midnight” (menit-menit menuju tengah malam) karena adanya isu nuklir di bumi ini yang dapat menghancurkan dunia pada saat tengah malam.
Sebanyak 100 lagu demo telah diciptakan namun hanya 12 yang dimasukkan ke dalam album. Tidak heran kalau album ini direkam selama 14 bulan. Dalam album Minutes To Midnight, unsur musik nu metal kurang kental. Walaupun demikian, album ini tetap digemari. Buktinya adalah album ini terjual hampir sebanyak 625 ribu kopi dalam pekan pertamanya (sebuah rekor dalam tahun 2007). Album studio ketiga ini diproduseri oleh Mike Shinoda dan Rick Rubin, mantan personil Beastie Boys. Singel pertamanya, “What I’ve Done”, sudah mulai diputar di radio pada tanggal 2 April 2007. Minutes To Midnight juga menduduki tangga teratas Billboard. Pada tanggal 20 Agustus 2007, Linkin Park merilis singel keduanya, yaitu “Bleed It Out”. Dan, pada bulan Oktober, Linkin Park akan merilis singel “Shadow of the Day”.
Lagu “No Roads Left” bisa didapatkan melalui pemesanan lewat iTunes. Sementara lagu “Qwerty” bisa didapatkan di EP berjudul Linkin Park Underground v6.0.
Aliran

Pada awal pembentukannya, Linkin Park beraliran rock. Setelah masuknya seorang DJ atau turntablis bernama Joe Hahn, Linkin Park mengganti alirannya menjadi hip-hop. Namun, pada album Hybrid Theory, Linkin Park mengganti lagi alirannya menjadi nu metal dan rapcore. Demikian juga pada album Meteora, hanya saja Linkin Park juga menambahkan unsur elektronika.
Pada album Minutes To Midnight, segalanya berubah total. Linkin Park benar-benar mengurangi unsur nu metal secara spesifik. Sebagai gantinya, Linkin Park menggunakan aliran alternative rock. Ini jelas sebuah eksperimen mengingat kesuksesan Linkin Park dengan genre nu metal dalam album sebelumnya. Tetapi, ternyata eksperimen itu berhasil.
Teknis
Linkin Park jarang menggunakan teknik melodi gitar namun petikan gitar. Selain itu, rap dari Mike Shinoda sering muncul di banyak lagu. Terkadang Chester berteriak dalam beberapa lagu.
Lagi-lagi, perubahan terjadi di album Minutes To Midnight. Linkin Park mengurangi unsur rap dari Mike. Rapnya hanya ada di 2 lagu, yaitu Bleed It Out dan Hands Held High. Sementara vokal Chester lebih dominan dibanding sebelumnya. Linkin Park juga bermain lebih lembut.
Linkin Park Underground
Ini adalah kelompok penggemar Linkin Park yang dibentuk tahun 2001. Jika bergabung dengan LPU (singkatannya) maka bisa memperoleh merchandise khusus untuk anggota LPU. Seperti kaus, asbak, buku, dan album mini (EP).
Anggota
Anggota Sekarang
1. Chester Bennington – vokal
2. Rob Bourdon – drum
3. Brad Delson – gitar
4. Dave “Phoenix” Farrell – bass
5. Joseph Hahn – turntable, sampling
6. Mike Shinoda – backing vocal, sampling, rap, keyboard, gitar

Mantan Anggota
1. Mark Wakefield – Vokal
2. Scott Koziol – Bass (Stand-in)
3. Kyle Christener – Bass (Stand-in)
Diskografi
1. Xero Sampler Tape
2. Hybrid Theory EP
3. Hybrid Theory - 24 Oktober 2000
4. Reanimation
5. Meteora - 25 Maret 2003
6. Live In Texas
7. Collision Course
8. Minutes to Midnight - 14 Mei 2007
Beberapa band yang berhubungan dengan Linkin Park
1. Fort Minor - Proyek sampingan Mike Shinoda
2. Dead By Sunrise - Proyek sampingan Chester Bennington
3. Hybrid Theory - Nama lama Linkin Park
4. Xero - Nama lama Linkin Park
5. Tasty Snax - Band lama Dave “Phoenix” Farrell
6. Grey Daze - Band lama Chester Bennington

Senin, 07 Maret 2011

Counter Strike Online, Game Online Indonesia dari Megaxus.

Counter Strike Online, Game Online Indonesia dari Megaxus,
Counter Strike Online, yang merupakan games online bergenre MMOFPS (Massive Multiplayer Online First Person Shooter) yang sudah lama terkenal di seluruh dunia, kini PT Megaxus Infotech ( Megaxus ) akan mempersembahkan game Counter-Strike Online Indonesia.
Counter Strike Online, Game Online Indonesia dari Megaxus
Counter-Strike Online yang diproduksi oleh Valve & Nexon South Korea ini, memiliki seluruh karakteristik kuat dari Counter-Strike, bahkan lebih baik lagi. Dengan tambahan elemen seperti karakter & senjata baru, puluhan map baru yang telah disesuaikan dan mode-mode baru yang unik serta menantang, membuat Counter-Strike Online semakin seru untuk dimainkan.
Counter Strike Online, Game Online Indonesia dari Megaxus
Counter-Strike Online dapat dimainkan oleh seluruh orang di seluruh Indonesia. Clan dapat dibuat dan berkompetisi di level tertinggi Counter-Strike Online Indonesia.

Spesifikasi Counter-Strike Online Indonesia.

Counter Strike Online, Game Online Indonesia dari Megaxus 
http://ariefew.com/games/counter-strike-online-game-online-indonesia-dari-megaxus/..

 Call of Duty – Black Ops yang juga sering disebut sebagai seri ke-7 dari “Call of Duty lain”, adalah salah satu game action dengan tampilan first-men-shooter yang dimulai sejak 2003. Activision yang menggawangi penerbitannya, mengembangkan Call of Duty dari game Quake III yang tak kalah menarik di masa lampau.

Kali ini, Activision menggandeng developer Treyarch yang telah dipercayai membangun empat seri lain. Hasilnya, jangankan menjadi bosan, jumlah penggemar Call of Duty dari waktu terus bertambah, termasuk tingginya peminat saat seri Call of Duty – Black Ops dirilis perdana pada November 2010.

Latar Kisah

Berbeda dengan seri Modern Warfare, Call of Duty – Black Ops menggabungkan setting cerita berdasarkan petempuran semasa Perang Dunia II dan era Perang Dingin . MDers akan bermain sebagai Alex Mason di sini yang menjalankan berbagai misi di Kuba, Vietnam, bahkan Rusia. Rekan tim MDers adalah Sersan Rusia Viktor Reznov yang berbeda ideologi, tetapi akan bertindak sebagai pemandu demi menghadapi musuh bersama.

0202__Call_of_Duty_Black_Ops_Review__1.jpg

Di dalamnya, Call of Duty – Black Ops juga membuat Mason secara tidak langsung terhubung dengan para tokoh dunia seperti JF Kennedy sampai Fidel Castro. Ceritanya menjadi kompleks dengan demikian, sehingga sangat jauh berbeda saat MDers mengingat latar kisah Grand Theft Auto yang dengan sadis menghajar gangster hingga tewas, atau kegilaan ‘orang biasa’ lain seperti Heavy Rain. Permainan ini hanya terfokus pada membunuh lawan dengan cerdik, tetapi logika musuh yang dibangun nampaknya layak menampuk Call of Duty - Black Ops sebagai game FPS dengan latar cerita terbaik.

Grafis Detil, Gameplay Menyenangkan

Meski sound dalam Call of Duty – Black Ops tak bisa dibilang menakjubkan, tetapi sebagai pengisi suara hasilnya cukup baik. Lagipula, ledakan dan rentetan senjata mungkin terabaikan saat pemain mendapati grafis yang detil, dan dengan cepat membuat suasana permainan lebih seru. Tempat-tempat di sekeliling pun digambarkan dengan baik; sedikit kelam, tetapi mempesona. Tampilan ini membuat MDers ingin duduk sejenak melihat pemandangan sekitar, kalau saja hidung musuh tak segera muncul.

0202__Call_of_Duty_Black_Ops_Review__2.jpg

Di bagian lain, rekan Tim tak selamanya dapat diajak bekerjasama. Mereka memang digerakkan Treyarch untuk menguji kemampuan MDers seorang diri, terutama ketika di satu bagian MDers hanya berusaha bertahan dan bertahan, padahal musuh terus datang tanpa henti. Ketimbang frustasi dengan bertahan, Call of Duty – Black Ops membuat MDers melaju menghadapi musuh secara terbuka.

Demi keberhasilan menyelesaikan setiap misi, MDers akan dibekali tambahan peralatan baru dalam Call of Duty – Black Ops. Ada panah yang dapat meluncurkan bom, sampai granat gas untuk mengelabui lokasi MDers dari musuh terbuka, atau saat menyerbu suatu tempat. Setiap misi nampaknya memerlukan cara sendiri untuk menuntaskannya, karena tidak selamanya baku-tembak terbuka membuahkan kemenangan, dan tidak selamanya rekan tim dalam Call of Duty – Black Ops membantu menembak musuh saat MDers bersembunyi di balik dinding.

0202__Call_of_Duty_Black_Ops_Review__3.jpg

Memilih Multi-player

Buat MDers yang masih mengingat serunya memainkan Modern Warfare 2, Treyarch berusaha menampilkan ketegangan dan kesenangan serupa dalam Call of Duty – Black Ops. Dengan bergerak lebih cepat ketimbang Medal of Honor, variasi senjata sangat nyaman digunakan pada mode ini. Setiap tembakan akan menghasilkan poin, dan setiap senjata yang digunakan menghasilkan poin berbeda, sesuai petunjuk prioritas yang muncul di bagian tengah-atas layar.

Beberapa mode juga bisa MDers bandingkan saat bermain bersama teman maupun ‘teman-teman maya’ lainnya sesuai konsol yang digunakan untuk bermain Call of Duty – Black Ops. Semisal memilih sub-mode “Satu Kamar”, MDers hanya diberikan sebutir peluru saja saat memulai permainan, dan baru mendapat amunisi tambahan setelah membunuh musuh. Lalu MDers juga bisa mencoba keberanian dan kecerdikan lebih jauh dengan membunuh menggunakan panah, pisau, atau tomahawk saja. Bagi yang senang menggunakan pistol, MDers pun dapat memulai sub-mode yang hanya menggunakan pistol. Sangat ekspresif dan menegangkan!

0202__Call_of_Duty_Black_Ops_Review__8.jpg

MD's Best Play

Dengan berbagai bentuk misi dan fitur dalam Call of Duty – Black Ops, permainan nampaknya tak hanya cukup dimainkan dalam 9-10 jam saja. Ada cukup banyak hal yang mesti MDers coba, dan menjadi ahli di dalamnya, sebelum berhadapan dengan teman-teman di multi-player yang akan memiliki keahlian masing-masing. Hal ini karena setiap senjata dalam Call of Duty – Black Ops akan menghasilkan dampak berbeda, sehingga MDers mungkin tidak serta-merta memenangkan perang terbuka hanya dengan menguasai satu senjata saja.

Selain itu, Call of Duty – Black Ops adalah game FPS paling menyerupai sinema perang ala Hollywood yang pernah dibuat —meski Activision tidak pernah berpikir mengangkat game ini ke layar lebar, karena terlalu banyak film layar lebar yang setting kisahnya menyerupai Call of Duty – Black Ops. Namun buat MDers para gamers pecinta tembak-menembak, seri Call of Duty ini akan jadi sajian “Hollywood” yang membutuhkan keahlian dan keseriusan MDers dalam menuntaskan misi. Mason dalam Call of Duty – Black Ops adalah “Rambo”, sekaligus Danny “Ocean Thirteen” saat menuntaskan seluruh misi-misinya.

Spesifikasi minimal yang dibutuhkan:
  • OS: Windows XP/Vista/7
  • Processor: Intel Core 2 Duo @ 2.4 Ghz/AMD Athlon 64 X2 4800+
  • Memory: 2GB
  • Hard Drive: 12 GB free
  • Video memory: 256 Mb
  • Video Card: Nvidia GeForce 8600/ATI Radeon HD 2600
  • Sound Card: DirectX Compatible
  • DirectX: 9.0c
  • Keyboard
  • Mouse

  

Tentang Kami ...

Foto saya
Bogor, Yogyakarta, Indonesia
Pendiem, cuek, kuper, tp asik kok, seneng baca sesuatu yang menarik mata & hati, seneng berkelana juga.. Dalam hidup, jika kamu takut sesuatu.. maka kamu tidak akan melihat apapun

Popular Posts

Pengikut

PRIMAFVA. Diberdayakan oleh Blogger.